![]() |
| Tebon : Sumindar, seorang penjual tebon di Karas, Sedan, sedang melayani pembeli tebon miliknya. (Foto:M Ilyas al-Musthofa). |
SEDAN, Suararembang.net – Sulitnya rumput
karena kemarau panjang yang melanda hampir semua wilayah Kabupaten Rembang
ternyata membawa berkah tersendiri bagi sebagian orang. Salah satunya adalah
bagi penjual tebon jagung.
Seperti diungkapkan
oleh salah seorang penjual tebon di Karas, Sedan, Sumindar (60), yang mengaku
mendapatkan keuntungan kotor sekitar Rp500 ribu tiap hari dari menjajakan
tebon. Menurutny hal itu merupakan dampak dari kemarau panjang sehingga rumput
sulit didapat.
“Tiap hari
rata-rata terjual 70 hingga 100 ikat tebon. Satu ikat tebon segar saya banderol
Rp5.000. dan sepertinya para pemilik ternak tidak merasa keberatan,” cetusnya,
Rabu (26/9).
Sumindar meyakini,
tingginya penjualan tebon di hampir seluruh wilayah Rembang membuat banyak
pelaku bisnis tebon bergerilya ke daerah-daerah penghasil jagung. Tujuannya,
jelas dia, adalah untuk menebas tanaman jagung milik petani yang tebonnya pada
nantinya akan dijual.
‘Saya yakin hampir
semua penjual tebon selalu kemana-mana untuk mencari tanaman jagung yang akan
ditebas. Maka dari itu terkadang bagi penjual seperti saya, sering kesulitan
mendapatkan lahan jagung yang akan ditebas,” imbuhnya.
Sementara itu,
Rodhi (35), seorang warga Desa Karas, membenarkan bahwa keberadaan penjual
tebon cukup membantu penyediaan pakan ternak. Setiap hari, Rodhi mengaku harus
membeli sedikitnya enam ikat tebo untuk pakan enam ternaknya.
“Saya punya enam
sapi dan setiap hari pasti membeli tebon sedikitnya enam ikat. Itupun masih
saya tambahi dari jerami kering hasil panen sebelumnya. Setidaknya tiap hari
harus keluar biaya Rp30 ribu untuk ternak,” paparnya.
