| Ilustrasi: Lahan tegal yang kurang produktif |
Salah seorang petani asal Desa Sulang, Kecamatan Sulang, Parno, Kamis (20/9), mengatakan, tren menyewakan lahan kepada pemodal besar sudah lumrah dilakukan petani di daerahnya sejak dua tahun lalu.
"Kami terpaksa menyewakan lahan lantaran tak memiliki cukup uang untuk biaya bertanam. Hampir setiap tahun, kami sealu susah payah mencari pinjaman untuk itu (bertanam-red). Tapi hasilnya juga tidak seberapa," katanya.
Parno menambahkan, kebanyakan lahan yang disewakan bukanlah lahan sawah yang produktif melainkan area tegal yang selama ini pemanfaatannya kurang optimal karena memang kondisi tanahnya yang kurang subur.
"Sepertinya, kalau disewakan lebih menguntungkan daripada digarap sendiri. Apalagi, selama ini misal kami garap sendiri, hasilnya pun tak maksimal sehingga kami sering rugi," tambahnya.
Hal sama juga dikatakan Parman, petani asal Desa Pasedan Kecamatan Bulu. Menurutnya, dua tahun belakangan, banyak para pemodal besar baik dari Kabupaten Rembang maupun luar daerah yang menyewa lahan warga untuk ditanami tebu.
"Kebanyakan penyewa adalah bos tebu yang hendak mengembangkan lahan tebunya. Selain dari daerah sekitar, banyak juga bos tebu dari Kabupaten Pati. Modusnya, mereka memiliki orang kepercayaan di daerah setempat sebagai perantara. Begitu mendengar ada warga yang akan meyewakan lahan, mereka langsung menegonya," tuturnya.
Umumnya, tambah Parman, transaksi dilakukan pada saat kemarau dimana tegal dalam keadaan sudah tidak ada tanamannya seperti ini.
"Jika sudah sepakat harga, mereka langsung mengolah lahan dengan melakukan pembajakan dengan menggunakan traktor mobil. Sehingga saat musim hujan tiba, lahan sudah siap ditanami," tambahnya.
Harga sewa mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta per hektare bergantung pada kondisi tanah dan akses masuk. Semakin mudah jangkauannya, semakin mahal harga sewanya. Kebanyakan mereka menyewa lahan dalam kurun waktu 3 sampai 5 tahun. (Tarom)