| Seorang buruh industri gula merah di Desa Kunir, Kecamatan Sulang, sedang menggiling tebu untuk diambil air tebunya, Sabtu (6/10). (Foto: Pujianto) |
REMBANG, suararembang.net - Musim giling tebu tahun ini berakhir sudah. Tiga pabrik gula (PG) yang berdekatan dengan Rembang, masing-masing PG Pakis Pati, PG Trangkil Pati, dan PG Rendeng Kudus, sudah tak lagi menyerap tebu petani.
"Pabrik (gula) memang sudah tutup. Tinggal (PG) Cepiring, Kendal yang buka. Musim giling tahun ini memang sudah berakhir," terang Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Rembang, Maryono saat dihubungi suararembang.net, Sabtu (6/10) siang.
Menurut dia, sebagian petani yang sedang memanen tebunya kini dihadapkan pada dua pilihan; mengangkut tebu ke Cepiring atau mengalihkannya menjadi gula merah melalui industri tradisional gula tumbu.
"Hemat kami, kalau petani bisa membuat gula merah ya buat saja gula merah. Kalau dibawa ke Cepiring, terlalu berat diongkos. Bisa-bisa rugi," ujar dia.
Maryono menyebutkan, saat ini harga gula merah prangko barak (harga sampai di pabrik gula tumbu, red.) mencapai Rp6.000 per kilogram.
"Sementara, harga pembelian tebu per gelondong (kilogram) di Cepiring saat ini sebesar Rp550 per kilogram. Kalau bagus, memang bisa sampai Rp570 per kilogram" beber dia.
Untuk diketahui, dengan rendemen tebu sekarang ini yang menyentuh sembilan persen, maka untuk memproduksi satu kilogram gula merah diperlukan 10-11 kilogram tebu.
"Dengan selisih harga yang tidak jauh itu, jika pun petani mengalihkan hasil panen tebunya ke industri gula tumbu atau gula merah, petani masih cenderung untung. Ongkos transportasinya pun tidak tinggi dibandingkan apabila dibawa ke Cepiring," pungkas Maryono. (Pujianto)