| Ilustrasi |
Hanya saja, saat ini jumlah pembajak tradisional semakin sedikit. Hal ini sangat menyulitkan petani untuk sesegera mungkin mengolah lahan sawah mereka apabila turun hujan.
"Jumlah pembajak tradisional semakin sedikit. Satu kampung, jumlahnya bisa dihitung dangan jari. Saat musim cocok tanam tiba, pemilik lahan berlomba adu cepat menggunakan jasa mereka. Karena jumlahnya terbatas, tak bisa serta merta memakai jasa mereka.alias harus antre. Jika tak sabar, terpaksa harus mencari tukang bajak ke desa tetangga. Itu pun kalau dapat," kata Hartiyo, seorang petani asal Desa Sulang kecamatan Sulang, Kamis (11/10).
Hal sama juga dikatakan Sholeh, petani asal Desa Jatimudo, Kecamatan Sulang. Menurutnya, saat ini tukang bajak tradisional sudah semakin langka. Hal itu disebabkan karena selama ini bajak tradisional lebih banyak 'dioperasikan' petani golongan tua saja. Sedangkan petani yang usianya relatif muda dan produktif, enggan melakukannya.
"Hanya petani golongan tua yang masih setia menjadi buruh bajak. Yang muda, sangat jarang yang menekuninya. Alasannya, menjadi tukang bajak itu pekerjaan berat dan melelahkan. Petani golongan muda cenderung emoh dengan profesi itu. Mereka lebih memilih menjadi buruh bangunan, nelayan dan lainnya ketimbang harus berlumpur - lumpur dan berpanas-panasan di sawah," terang Sholeh.
Sholeh menambahkan, selama ini pembajak tradisional di daerahnya kebanyakan adalah mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Sangat jarang generasi dibawahnya yang sudi menjadi buruh bajak. "Nggak tahu kenapa. Mungkin gengsi atau memang pekerjaan itu dianggap kurang menghasilkan," tambahnya.
Padahal, tambahnya lagi, Untuk upah membajak terhitung tinggi. "Musim tanam tahun lalu, upah buruh bajak tradisional berkisar Rp30.000 hingga Rp35.000 per pagi (Pukul 07.00 - 10.00 WIB). Mereka masih mendapatkan jatah sarapan. Kalau lepas (tanpa sarapan) mencapai Rp40.000 - Rp45.000," tegasnya. (Tarom)