Suasana penjualan tembakau Marem di gudang milik PT Sadana. REMBANG - Beberapa petani tembakau di Kabupaten Rembang menyesalkan sikap PT...
Suasana penjualan tembakau Marem di gudang milik PT Sadana. |
Hal tersebut diungkapkan salah satu petani asal Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Jayin, Sabtu (11/8). Menurut pengakuannya, ia terpaksa membawa pulang kembali satu bal tembakau rajangan yang sudah diprosesnya lantaran pihak Sadana tak mau membeli dengan alasan kualitas yang di bawah standar.
"Kami tak bisa berbuat apa-apa ketika tembakau yang sudah dengan susah payah saya rajang tidak dibeli Sadana. Ini membuat kami rugi banyak karena biaya yang sudah kami keluarkan mulai saat pembedengan hingga proses perajangan sangat besar," katanya.
Jayin menambahkan, menurut keterangan petugas dari PT sadana, tembakau yang dijualnya tidak sesuai standar dan spesifikasi yang sudah ditentukan perusahaan.
"Ini yang membuat saya stres. Saya hanya petani kecil yang tidak tahu kriteria yang dimaksud. jika dianggap di bawah standar, sebenarnya kami tak keberatan dibeli dengan harga berapapun sesuai grade yang mereka patok," tambahnya.
Hal sama juga dikatakan salah seorang petani asal Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bulu, Rondi. Ia mengaku juga pernah mengalami nasib serupa saat satu bal tembakau rajangannya ditolak oleh PT Sadana dengan alasan kulaitas yang tidak sesuai standar.
"Saya pernah merasakan itu. Ini sangat menyulitkan petani," terangnya.
Rondi berharap, PT Sadana Arifnusa selaku perusahaan yang bermitra dengan petani tembakau di Kabupaten Rembang mempunyai kebijakan tersendiri dengan tetap membeli tembakau petani yang dianggap memiliki kualitas dan spesifikasi kurang standar.
"Dengan demikian, maka petani tidak akan menderita kerugian yang banyak," pungkasnya. (Tarom)